Minggu, 17 November 2013

#H+4 “dari Timur ke Selatan Malaysia”

Dua Tiga Ular berbisa
Malaysia Singapura Bisa

“Huaahh…”. Sungguh kejadian hari kemarin merupakan kejadian yang sangat melelahkan. Bangun tidur terasa ada beban yang menimpa badan. Itu sudah menjadi kebiasaan empat hari berada di Kuala Lumpur. Tapi, nanti dulu, ada sesuatu yang membuat kami lebih semangat bangun daripada hari-hari sebelumnya. Hari ini kami akan mengunjungi ‘rumah kami’ yang berada di Kuala Lumpur, dilanjutkan ke Johor yang nantinya akan menjadi tempat menginap kita nanti selama tiga hari ke depan.


“Ayo! Semuanya segera bereskan koper masing-masing!” kata Pak Karebet, selaku pembimbing acara dan penanggung jawab harian kegiatan ini.  Hari ini kami sudah tidak bisa lagi menginap di asrama UM tercinta. Memang sedih, tapi Alhamdulillah, kami dapat kabar bahwa asrama selanjutnya bakalan lebih ueenaakk. Kolej 11 sudah menjadi tempat favorit kami untuk makan pagi setelah berolahraga jalan kaki sekitar 2 km dari kolej kami sebelumya. Wuih.. Perjalanan yang sangat melelahkan. Meneteskan keringat demi tiba di tempat makan.
Pak Karebet membuka briefing pagi hari
pergantian CoD pembimbing : Pak Muhib --> Pak Andi

Seperti biasa, kami berkumpul, mengevaluasi aktivitas dan penampilan yang kemarin dari setiap pembimbing, dan yang ditunggu-tunggu yaitu prosesi pergantian Chief of Delegation harian. Untuk CoD dari guru yang semula Pak Muhib digantikan oleh Pak Andi. CoD dari Ikhwan yang semula Abduh digantikan oleh Hanif, dan CoD dari akhwat yang semula Najway digantikan oleh Dila. Selesai peresmian, saatnya mengisi perut masing-masing. Hari terakhir makan di sini, tidak heran jika kami merogoh koceh yang tidak sedikit.

Waktunya makan pagi, waktunya penyegaran. Tapi, berbeda dengan kisah berikut ini. Sesaat sebelum meninggalkan tempat ini, langkah kami terhenti. Ternyata penjaga kantin tempat kami membeli makan pagi setiap hari mendadak meneteskan air mata. Sang penjaga tersebut SEDIH tak kuasa menahan air mata ketika tahu bahwa kami akan meninggalkan UM untuk meneruskan program latihan ini. Setelah kami telusur, ternyata beliau senang dengan kehadiran kami di sini. Kami mengingatkannya dengan keluarganya di kampong.  Pekerjaan di sini membuatnya tidak mudah untuk bisa pulang dan pergi, mendatangi kampung dan menemui keluarganya di Jawa Timur. Hmmm…so sweet.

Bus sudah menunggu di depan kolej pukul 07.00 waktu Kuala Lumpur, tanda siap mengantarkan kami ke tempat Kedutaan Besar Republik Indonesia. Pembina kami mewanti-wanti,  itu rumah kita, kita datang mengunjungi rumah kita sendiri, jadi untuk apa kita grogi di sana. Wewanti itu diucapkan, karena hari ini, kami mendapat ‘tugas khusus’ yang mengubah rencana kami sebelumnya. Benar, kali ini kami akan presentasi di sana, tapi kali ini dengan MC dan presentator yang ditunjuk dadakan pada saat kami melaju di atas bis. Subhanallah, tugas yang membuat kening kami semua berkerut-kerut seperti jeruk purut. Bayangkan bagaimana kami harus secepat mungkin beradaptasi merespon keputusan dadakan pembimbing ini. Hemmm… kami hanya diberi satu pilihan, take it! Lantas, bagaimana hasilnya? 
indonesia embassy

Begitulah, di atas roda bis yang terus berputar, terjadilah kabar ‘dag-dig-dug’ di hati kami para siswa. Siapa yang yang akan menjadi MC dan presentator hari ini,  dipilih mendadak 25 menit sebelum sampai di KBRI. Jeng… jeng… jeng… terpilihlah MC yang akan menjadi sejarah presentasi kali ini, 4 MC sekaligus. Dia adalah Luqman, Maman, Fathir dan Abduh. Dilanjutkan dengan pemilihan presentator perwakilan dari ikhwan, terpilihlah Ihsan dan wakil dari akhwat, terpilihlah Fatimah Azzahra. Mereka berdua menjadi duo presentator. MC dan presentator tak punya waktu banyak untuk segera menyiapkan strategi baru.

Belum tuntas kami membahas strategi, akhirnya kami tiba di KBRI pukul 09.00 Waktu Kuala Lumpur. Terlihat banyak sekali Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sedang berkumpul di suatu ruangan. Di tengah gedung terdapat pintu masuk KBRI. Tak disangka, tak lama setelah kami masuk, kami bertemu dan disambut langsung oleh Prof Rusdi, PhD, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Malaysia. Meski merasa senang mendapat kunjungan, Beliau ternyata tidak punya banyak waktu untuk bersama kami sehingga kami pun serasa mendapat tantangan baru: presentasi selama 10 menit.  Beliau harus segera keluar kantor lagi!
Pak Rimun | Pak Prof Rusdi | Pak Karebet
MC Heboh 1
MC Heboh 2

single presentator (ikhwan) : Ihsan 
Dimulai dengan MC yang heboh membuka presentasi dengan singkat, padat, jelas dan tentunya diisi dengan pantun. Dilanjutkan dengan presentator pertama, Ihsan. Memang kali ini ada sedikit perubahan yang sangat mempengaruhi penampilan presentasi dari kami. Ternyata datang kabar bahwa LCD tidak dapat digunakan sekarang karena suatu kondisi tertentu. Tapi kami selalu tenang, memang itu sudah tidak menjadi persoalan kami, ketika itu tantangan maka kami hadapi dan kami punya jalan antisipasinya. Tanpa LCD kami pun bisa presentasi. Dengan lihai tanpa melihat teks menjelaskan apa itu kepemimpinan dan alasan itu dibutuhkan. Lalu dilanjutkan oleh Fatimah yang menjelaskan teknis program LKMA. Duo presentator tersebut menjelaskan layaknya seorang presentator sesungguhnya hingga di ujung waktu presentasi.

“Penampilan luar biasa, bagus, tidak grogi, vocal bagus,  spontan” Komentar Prof. Rusdie. “Inilah sesungguhnya esensi pendidikan. Inilah bagian yang sering hilang di dunia pendidikan kita”. Dalam waktu yang terbatas, beliau menjelaskan mengenai kedudukan dan fungsi strategis KBRI di Malaysia.  Beliau men-support penuh kegiatan ini. Bahkan, sebelum meninggalkan ruangan, beliau berpesan kuat pada  pembina kami bahwa tahun depan, beliau ingin mempertemukan siswa-siswa SMAIT Insantama  dengan siswa-siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Beliau ingin menjadikan kedua sekolah ini sebagai sekolah kembar atau sister school.  Langkah pertamanya, sebelum pertemuan tersebut, pembina kami diminta datang untuk bertemu dengan pimpinan Sekolah Indonesia. Subhanallah… program LKMA akhirnya berbuah pada pengembangan jaringan sekolah Insantama tercinta.

Kami pun rehat sejenak menikmati jamuan khas tahu isi dan martabak mini. Benar-benar serasa di rumah sendiri. Tak disangka, terlihat seorang Staf Bidang Pendidikan KBRI Malaysia ikut terkesima melihat presentasi dari kami. Beliau bernama Bu Endang. Ketika kami ajak untuk berbagi cerita dengan kami, beliau sangat apresiasi. Tanpa panjang lebar kami pun menggelar tanya jawab dengan beliau melanjutkan sesi awal tadi.
sesi tanya jawab : Fara
sesi tanya jawab : Addin

special gift from SMAIT Insantama oleh Pak Karebet
Entah kenapa ruangan itu seakan-akan menghangat dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh kami. Baik itu tentang TKI atau kondisi Indonesia di mata Malaysia. Ternyata KBRI Malaysia bukanlah gedung sepi yang kami kira. Ada banyak orang Indonesia yang memiliki kendala, permasalahan  di Malaysia dan harus diselesaikan di gedung KBRI ini. Dari mulai perpanjangan paspor bagi pendatang legal hingga beragam persoalan yang menimpa pendatang illegal. Saking banyaknya, pengurusan di kedutaan ini dibatasi maksimal hanya 1.000 orang per hari, dan itu bisa membludak jika tidak dibatasi. Bisa dikatakan, di sinilah kedutaan besar Indonesia tersibuk di dunia.

it's real KLCC (akhwat)

Big Bang ikhwan at KLCC
Agenda berikutnya selepas kunjungan ke KBRI adalah sholat jamak takdim qashar Dhuhur Ashar di Masjid As Syakirin yang letaknya tak jauh dari kedutaan. Di sela waktu yang ada, delegasi menyempatkan diri untuk berpose di taman belakang Masjid yang berlatar belakang kompleks bisnis terkenal di Kuala Lumpur, apalagi kalau bukan Menara Kembar atau Twin Tower. Dari berfoto hingga membuat video kacil-kecilan kami mainkan. Adegan merobek proposal pun kami lakukan. Untuk apa? Hehe… Mau tahu ceritanya? Tunggu film LKMA 2013 ya…

Tak terasa, bis sudah menunggu di luar masjid, saatnya kami menuju tempat tujuan kami berikutnya. Yap, itulah Johor Bahru. Waktu yang ditempuh pun lumayan lama, terhitung 4 jam dari tempat sekarang, Kuala Lumpur. Akhirnya ada waktu lama untuk kami beristirahat di atas kursi. Berangkat pukul 14.00 Waktu Malaysia hingga tiba di Johor pukul 20.00 Waktu Malaysia. Sungguh waktu yang tidak diduga karena kondisi jalan yang tidak dapat kita perkirakan.

the first dinner at MRSM johor bahru
suasana ruang makan di MRSM
Tapi semua kelelahan kami itu terobati oleh sambutan yang kami dapatkan ketika tiba di Johor. Tepatnya di Maktab Rendah Sains Mara yang merupakan salah satu Boarding School terbaik di Johor. Tempat makan yang luas serta makanan yang hangat sudah disediakan untuk kami, delegasi SMAIT Insantama. Bukan hanya itu, setelah makan kami diantarkan ke tempat yang akan kami gunakan untuk menginap. Setelah dilihat, itu ternyata lebih bagus dari sebelumnya. Alhamdulillah, ternyata benar di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Kami memandang sekitar, inilah baru yang disebut boarding school. Dari tandas (kamar mandi) hingga lapangan dan surau (masjid) yang disediakan cocok untuk murid setingkat SMP dan SMA di Indonesia. Luas dan lengkapnya fasilitas di sekolah ini (maklum milik Negara!) membuat kami menyebutnya sebagai sekolah mewah.

Selesai menata barang bawaan di kamar masing-masing, pukul 10.00 waktu Malaysia kami pun disediakan jamuan lagi. Tidak heran kalau tengah malam kami sangat tenang dan tentunya, kenyang. Hingga waktunya tidur, semua terlelap. Kami delegasi SMAIT Insantama siap menyelesaikan tantangan hari berikutnya!

Bunga mawar bunga melati
Melatinya wangi sekali
Tantangan besok sudah menanti
Kami siap menghadapi

LKMA 2013! Malaysia Singapura BISA!

[114]














Tidak ada komentar:

Posting Komentar